<div style='background-color: none transparent;'></div>

HumOr Edisi 21 Tahun Kedua, September 2013

HumOr Edisi 21 Tahun Kedua, September 2013
Komedi Manusia - GM Sudarta (Oil on Canvas)






Rezeki Sublimatif

Sabtu, 20 April 2013

Prie GS
Satu tapi mengubah semua, itulah hasil dari hukum sublimasi jika sudah bekerja. Yang ada bisa tidak ada. Kapur barus yang teronggok bisa lenyap sebagai gas karena menyublim. Indonesia berkepentingan memanfaatkan hukum ini, terutama karena bangsa ini terlalu banyak dihina, baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri. Saya belajar soal ini dari pengalaman Icuk Sugiarto saat ia menjadi tamu show televisi saya.

Suatu saat ia sedang melawan Lim Swie King dalam sebuah pertandingan panjang yang melelahkan, 215 menit untuk tiga set. Partai yang amat menguras tenaga. Di set terakhir, Swie King hanya butuh menambah satu angka lagi dan pertandingan akan usai dengan gelar Juara Dunia diboyongnya.

Tapi kenyataan itu tak terjadi. King selalu gagal menambah poin karena selalu terjadi adegan pindah bola dengan Icuk pelan-pelan menyusulnya untuk akhirnya malah menyamakan angka. Stadion gemuruh sekaligus tegang oleh tebak-tebakan apa yang akan terjadi. Adakah Icuk yang tak diunggulkan itu akan menumbangkan kebesaran seorang Lim Swie King. Jawabnya ada di satu pukulan Icuk yang membuat King menyerah. Icuk menjadi Juara Dunia dalam usia 20 tahun. Rekor yang belum pecah hingga kini. Satu pukulan, mengubah peta hidup nyaris secara keseluruhan.

Dari mana energi Icuk ini berasal? Ada banyak jurusan tapi salah satunya datang dari kenyataan ini: ia datang ke Jakarta sebagai bibit pemain bukutangkis yang bahkan raket pun tak punya.

Kemiskinan menjeratnya sampai ke ubun-ubun karena saat teman-temannya membeli buah, ia hanya bisa memandang dengan lapar tertahan. "Padahal buah itu hanya sebu
tir jambu," kata Icuk mengenang. Akhirnya ia putuskan, setiap ia kelaparan tanpa bisa jajan, ia malah mengambil sepatu dan lari keliling lapangan. Akhirnya porsi latihannya melebih porsi yang ditakarkan. Hasilnya: "Ada semacam jeniusitas yang berkembang dalam diri saya secara diam-diam," kata Icuk.

Yang terjadi kemudian adalah latihan bak kungfu Shao Lin. Berbulan-bulan seorang murid hanya diminta untuk mengelap meja senantiasa dan kung funya tak ada. Tapi ternyata itulah gerakan yang jika dilayangkan akan membuat lawan pingsan. Itulah efek kenyataan yang telah disublimasikan. Kemiskinan, tekanan, hinaan, sungguh energi besar yang terpendam. Indonesia memiliki tambang energi ini dalam jumlah yang melimpah. Di tekan, dihina, dimiskinkan. Lengkap.

Sayang kelengkapan deposit derita ini tak pernah benar-benar kita manfaatkan. Jumlah tekanan dan hinaan ini tak pernah disublimasikan seperti Icuk melakukan. tapi malah ditambahkan-tambahkan. Sudah tahu negaranya dihina tapi korupsi masih ramai dijalankan. Itulah yang membuat pihak yang dihina malah tambah terhina.


Continue Reading | komentar

Rezeki Definitif

Prie GS
Rezeki yang terbayangkan itu tak sebesar rezeki yang tak terbayangkan. Mudah membayangkan rezeki yang terbayangkan. Yang sulit adalah membayangkan soal-soal yang tak terbayangkan. Mudah bagi seorang karyawan membayangkan berapa jumlah gajinya hingga pensiun nanti. Tapi tak mudah membayangkan apa saja yang akan menjadi tambahan rezekinya di luar gaji.

Maka, menghentikan bayangan hanya sebatas pada soal-soal yang terbayangkan adalah soal gampang. Jadi jangan heran jika hasilnya juga terbatas pada soal-soal yang berkelas gampangan, yang orang lain mudah meniru dan mendapatkan juga tak perlu latihan. Itulah rezeki para penonton yang bisa diperoleh tanpa harus berusaha kecuali kesanggupannya untuk menonton.

Tapi hasilnya, cuma sebegitulah kelas rezeki penonton. Sudah masuk harus membeli tiket, di dalam harus berisiko menjadi korban tawuran. Sudah rugi duit, rugi pula keselamatan. Beda nian dengan pemain apalagi pemain bintang. Rezekinya sungguh berkebalikan. Apa yang tak diperoleh penonton adalah apa yang diberikan kepada pemain termasuk pujian. Jika ada pemain pujaaan rasanya belum ada penonton pujaan. Bahkan soal pujian saja penonton tak kebagian. Hidup yang tak pernah dipuji sungguh setara dengan mati.

Mudah sekali membayangkan menjadi penonton tapi tak mudah membayangkan menjadi pemain apalagi pemain bintang. Karenanya sedikit saja orang yang mau bersusah-payah bahkan hanya soal membayangkan. Makin sedikit membayangkan, makin sedikit kemungkinan. Makin sedikit kemungkinan makin sedikit peluang. Makin sedikit peluang makin sedikit yang bisa dikerjakan. Makin sedikit pekerjaan makin sedikit yang bisa dihasilkan. Dan itulah asal-usul kemiskinan.

Jadi jelas, betapa prinsipil kedudukan sebuah bayangan. Maka ketrampilan membayangkan benar-benar rezeki besar bagi sebuah peradaban. Bangsa yang terampil membayangkan selalu memimpin di barisan depan. Jika cuma bergantung pada rezeki definitif negara-negara yang miskin sumber daya alam itu sudah otomatis akan dicekik kemiskinan. Tapi anehnya otomatisasi itu tak selalu terjadi sepanjang mereka memiliki imajinasi. Latihan membayangkan soal-soal yang tak terbayangkan benar-benar akan mendatangkan rezeki dalam skala tak terbayangkan. Persoalannya, apa yang sekarang ini sedang kita bayangkan?


Continue Reading | komentar

Mengapa Begini Mengapa Begitu?

Minggu, 31 Maret 2013


Fakta Kecil Selalu Lebih Jos daripada Omongan Besar - Kartun Jitet Koestana

Demokrasi adalah lo mau begitu, gue mau begini, jadi kita jangan saling mengganggu.

Politikus buruk adalah politikus yang kerjanya cuma memperkaya diri dan golongannya. Politikus baik adalah politikus yang belum ketahuan kedok atawa belangnya (Pasal Indonesia, ayat Senayan).

AD-ART artinya Ah Dikau, Aku Rasa Tidak perlulah orang lain memusingkannya (Pasal KLB Partai Tertentu).

Menteri-menteri dilarang merangkap jabatan atau kerjaan...kecuali yang berasal dari partai sendiri (Pasal Presiden ayat Tugas Harian).

Demi Tuhan gue mau fokus...fokus pada satu saja tugas saya sebagai komponis.

Orang-orang suka salah mengerti padahal saya benar-benar ingin mengabdi sepenuh hati untuk keluarga besar sendiri.

Di balik setiap keberhasilan seorang pria selalu ada wanita istimewa di belakangnya. Di balik setiap kegagalan seorang pria, selalu ada wanita tertentu di belakangnya Di balik setiap pria yang berhasil lalu gagal selalu ada wanita lain di belakangnya.

Continue Reading | komentar

Di Negeri Dagelan


Kartun Jitet Koestana

Continue Reading | komentar

Film KartunTujuh Belas Ninja


Kartun Ahmad Antawirya

Continue Reading | komentar

Lain Ladang Lain Belalang


Kartun Joko Luwarso

Continue Reading | komentar

Preman, Prei Dulu...Man!

Sabtu, 16 Maret 2013

Kartun GM Sudarta - KOMPAS

Continue Reading | komentar
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr Online . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger