<div style='background-color: none transparent;'></div>

HumOr Edisi 21 Tahun Kedua, September 2013

HumOr Edisi 21 Tahun Kedua, September 2013
Komedi Manusia - GM Sudarta (Oil on Canvas)






Habis Gelap Terbitlah Terang

Sabtu, 20 April 2013


Kartun Jajak Solo

Continue Reading | komentar

Kaum Kartini Kok Begini

Kartun Lelucon Ayun Wahyu



Suami yang Baik
Ada Emak kasih nasihat ama putrinya, si Poni.
Emak: Pon, kalo milih laki yang baik itu ada 3 syaratnya:
1. Bisa irit
2. Lebih bego daripada elu
3. Masih jejaka tingting
Pada suatu hari Poni berwisata ke Puncak bersama pemuda kenalan barunya. Karena kemaleman, mereka nginep di sebuah hotel. Esoknya, dengan gembira si Poni melaporkan kepada emaknya.
Poni: aku udah dapet pacar mak...dan memenuhi ketiga syarat itu: IRIT, BEGO, JEJAKA
Emak: alhamdulillah...gimana ceritanya?
Poni: waktu kami kemaleman dan tidur di hotel, dia mengajakku tidur satu kamar aja. Nah, berarti dia bisa irit ya Mak?
Ke dua, dia melarangku pake pakean.. takut kalo pakeanku kusut. Padahal Puncak kan hawanya dingin. Berarti dia bego ya mak?!
Emak: lantas..apa buktinya kalo dia perjaka tingting?
Poni: eee...burungnya masih disegel mak.
Emak: disegel gimana?!
Poni: masih dibungkus...nih barang bukti bungkusnya..
Emak: jidat elu penyok itu...ini namanya KONDOM.!!
(Tris Sakeh)
Continue Reading | komentar

Bom Boston Ciderai Kemanusiaan

Kartun Jitet Koestana

Continue Reading | komentar

Gara-gara Blokir Anggaran atau Kesalahan Teknis?

Kartun Opini GM Sudarta - Harian Kompas

Continue Reading | komentar

Ikhsan Dwiono Juara Ketiga Lomba Kartun Syria 2013


Kartun Ikhsan Dwiono - Indonesia

Results of the 8th International Cartoon Contest Syria 2013

1st Prize : Grigorius Georgious (Greece)
2nd Prize : Haibat Ahmadi (Iran)
3rd Prize : Ikhsan Dwiono (Indonesia)

Special Prize :

Silvano Mello (Brazil)
Li Kui Jun (China)
Continue Reading | komentar

Satire Politik






Oleh Darminto M Sudarmo


Tujuan dari lelucon bukan untuk menurunkan derajat manusia, tetapi untuk sekadar mengingatkan bahwa mereka sudah terdegradasi.
George Orwell


                Salah satu lelucon paling ganas dan menyengat adalah satire. Meskipun demikian, seganas dan setajam apapun tak akan ada pengaruhnya apa-apa bagi sejumlah elit penguasa maupun pejabat publik bermasalah masa kini. Mereka telah memiliki alat penangkal yang amat canggih dan mustajab, namanya muka tebal. Atau separah-parahnya mati rasa hati nurani.
                Apa boleh buat, mungkin mereka merasa nyaman dengan berbekal peribahasa, “Lelucon menggonggong, masalah tetap berlalu”, karena kenyataannya masyarakat kita mudah melupakan, mudah terpesona oleh hal-hal yang serba baru. Kalau guyonan itu dikait-kaitkan dengan situasi Indonesia belakangan ini yang sangat heboh dan berisik; maka makin gayeng adegan pentas yang ada di depan mata kita. Mari kita lihat di bidang politik. Dari pemilukada, konsolidasi partai, lobi-lobi, tawar-menawar posisi, pemetaan ancaman dan peluang, penyiapan strategi hingga banyak lagi lainnya; semua begitu tumplek-blegjadi satu dan berebut prioritas.
                Hiruk-pikuk kasus korupsi, prahara di partai politik, bab-bab lanjutan perang urat saraf antara Anas Urbaningrum dan pihak yang disebutnya para Sengkuni,  atau Cikeas sekalipun, hingga tuntutan kejelasan siapa pihak di balik kebocoran Sprindik; ikut mewarnai riuhnya opini di media. Bagi sementara masyarakat kondisi seperti ini terkesan berisik, membingungkan dan bikin pening orientasi. Bagi kita, para pencinta humor, kita ramaikan situasi itu dengan tertawa dan menertawakan apa yang ada; begitu saja, agar kita tidak ikut-ikutan gila!
                Seperti kita ketahui, kegaduhan politik di Indonesia, belakangan makin menghangat; bahkan memanas. Fenomena itu muncul karena tahun 2014 sudah di ambang pintu. Sejumlah partai politik tiba-tiba menjadi sangat paranoid. Tegang dan reaktif. Seakan di negeri yang masih menanggung utang berbagai persoalan krusial dan substantif ini tak ada urusan lain yang lebih penting selain menyiapkan segala perangkat dan mental untuk menyongsong 2014.
                Fakta itu sungguh bikin geli hati. Sebenarnya, dinamika politik itu sehat. Aneka trik, manuver dan strategi para politisi untuk memikat publik luas juga sah-sah saja, sejauh masih dalam koridor etika kepatutan umum dan asas fairness.  Politik menjadi ternoda, kotor dan dicemooh ketika ingkar dari terminologi dasarnya yang netral. Makin mencemaskan lagi ketika disinyalir masyarakat terlihat mulai surut kepercayaannya dan skeptis terhadap partai politik karena menyaksikan pentas mereka yang jauh dari harapan.
                Di berbagai negara maju, kegaduhan politik itu selalu menarik perhatian para humoris untuk mengkritisisi situasi. Tak terkecuali di negeri kita. Para penulis opini pendek (status), kolom, kartun opini, foto/gambar opini dan aneka komentar tajam di berbagai jejaring sosial bertaburan. Ada yang halus (pasemon), ada yang satire (agak dalam dan serius), hingga ada pula yang sangat kasar (sarkastik). Termuat secara instan, hanya berselang menit atau detik dari publikasi terbuka di berbagai media umum.
                Partisipasi para humoris dan peminat humor ini – betapapun sarkastiknya – tetap lebih sehat dibandingkan dengan reaksi anarkis masyarakat yang mengumbar agresivitas. Karena hakikatnya, salah satu fungsi dari lelucon adalah untuk mengeliminasi agresivitas yang berlebihan. Ini sungguh menarik, merujuk George Orwell, dikatakan, "Tujuan dari lelucon bukan untuk menurunkan derajat manusia, tetapi untuk sekadar mengingatkan bahwa mereka sudah terdegradasi."

Politisi di Mata Humoris
                Berbicara tentang politik tentu tak dapat mengabaikan peran para politisi. Sesungguhnya, politisi itu makhluk seperti apa di mata para humoris? Berikut komentar (lelucon) mereka tentang politisi.
                “Politisi buruk adalah sekelompok politikus yang hanya sibuk memperkaya diri dan golongannya; sedangkan politisi baik adalah sekelompok politikus yang belum ketahuan kedok atau belangnya.”
                Ketika kepada mereka ditanyakan tentang tokoh-tokoh dan pemimpin besar dalam sejarah, “Apakah itu berarti mereka juga penjahat yang belum terbuka kedoknya?”, maka spontan dijawab, “Mereka bukan politisi baik, tetapi negarawan tulen.”
                Sulit dihindari munculnya citra miring tentang politisi karena sepak terjangnya yang khas dan cenderung bebal, “Politikus itu sama saja dengan popok bayi. Keduanya harus diganti secara teratur untuk tujuan dan alasan yang sama.”
                Bahkan sebuah sindiran yang sangat tajam dan mengejutkan memberi gambaran sebagai berikut tentang politisi:
                Seorang wanita pergi berkonsultasi  ke seorang dokter. Wanita itu mengeluhkan kalau suaminya belakangan ini telah berkecenderungan ke seks anal, ia ragu apakah itu baik untuk kesehatan.
                "Apakah Anda menikmatinya?" tanya dokter.
                "Yah, apa boleh buat."
                "Apakah itu menyakitkan bagi Anda?" tanya dokter.
                “Tidak juga, sih, tapi.... "
                "Nah,” dokter melanjutkan,"tidak masalah kalau itu sudah menjadi kesepakatan bersama, hanya saja Anda harus berhati-hati agar tidak hamil. "
                Wanita itu bingung. "Apa? Anda bilang, bisa hamil dari seks anal? "
                "Tentu saja," jawab dokter. "Menurut Anda, politisi itu datang dari mana?”
                Kasus-kasus korupsi juga menjadi biang kegaduhan politik. Kasus korupsi yang terkait dengan simulator SIM yang membuat Irjen Pol Djoko Susilo jadi tersangka dan istri mudanya Dipta Anindhita dipanggil KPK, langsung menggelitik humoris untuk meluncurkan leluconnya, “Di balik setiap pria sukses selalu ada seorang wanita di belakangnya. Di balik setiap pria sukses yang jatuh, selalu ada wanita lain di belakangnya.”

                Tentang koruptor-koruptor “religius” juga bukan isyu baru. Modus yang dia pakai  juga merupakan fenomena universal yang terdapat di berbagai negara. Salah satu lelucon pendek (oneliner) yang ditulis humoris asing menyiratkan semangat itu, bahwa sejak kecil pun, seorang bocah sekalipun,  sudah memulai bersiasat, agar kesalahannya terkesan cair dan menjadi sosok yang inosense karena telah melakukan hal yang dianggapnya religius, “I asked God for a bike, but I know God doesn't work that way. So I stole a bike and asked for forgiveness.”

                Kecenderungan korup ada di semua lapis kekuasaan, karena ujian bagi setiap penguasa selalu berupa tekanan atau godaan. Mungkin agak berlebihan bila mengklasifikasikan perilaku korup sebagai elan, kredo atau ideologi untuk mencapai target-target heroik karena apa yang dilakukannya dapat meyelamatkan partai atau golongan dari krisis finance yang dideritanya. Ini tidak selalu berkaitan dengan korupsi dan pengadaan sapi impor, bisa juga soal-soal lain. Siapa saja dapat terjebak di dalamnya. Pepatah lama yang menyebut-nyebut “tikus” sebagai metafora koruptor mengatakan, “The early bird might get the worm, but the second mouse gets the cheese.”

                Mengapa para pelaku korupsi dapat bersikap tenang bahkan berani bersumpah secara meyakinkan dengan ekspresi datar tanpa dosa? Tidak perlu kaget, di sinilah para pelaku korupsi memainkan bahasa tubuh mereka secara rileks dan nyaman; apalagi bila dia berjenis kelamin laki-laki. Pepatah lama saja mengatakan, “Women might be able to fake orgasms. But men can fake a whole relationship.”

                Kegaduhan politik memang tidak harus disikapi dengan reaksi ikut-ikutan panik dan kehilangan orientasi. Mungkin kita perlu sedikit mengendorkan urat saraf, memompa rasa humor yang selama ini terkubur dalam-dalam agar dapat melihat situasi dengan cara pandang yang lain. Nasihat Gene Perret, untuk membangkitkan rasa humor yang baik kita perlu mengasah tiga hal; pertama, mengasah kemampuan untuk melihat; kedua, mengasah kemampuan untuk mengakui; dan ketiga, mengasah kemampuan untuk menerima fakta sebagaimana adanya.

                Dengan demikian, rasa humor dapat menjernihkan pikiran dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka yang membebani.

(Dimuat di Harian Jawa Pos, 13 Maret 2013 – dengan judul: Bersatire Agar Tidak Gila – artikel ini merupakan naskah asli sebelum dilakukan penyuntingan).

Continue Reading | komentar

Media dan Rezim Isu



 Oleh Darminto M Sudarmo

Politisi buruk adalah sekelompok politikus yang hanya sibuk memperkaya diri dan golongannya; sedangkan politisi baik adalah sekelompok politikus yang belum ketahuan kedok atau belangnya.
               
Satire tersebuttergolong sindiran yang sangat tajam. Seperti kita ketahui, satire masuk kateogri sindiran atau kritikan yang muatan ejekannya lebih dominan dibandingkan dengan leluconnya itu sendiri. Kondisi perpolitikan Indonesia saat ini sangat subur memancing munculnya bukan saja kritikan atau sindiran tajam, tetapi juga hujatan dan caci cerca.
                Kasus Anas Urbaningrum yang seharusnya berada di ranah hukum langsung menjadi bias ketika Anas berhasil membelokkan topik ke ranah politik lewat retorikanya yang penuh teka-teki dan perlawanan.
                Media dan masyakarat pun lalu terpancing untuk mengikuti bagaimana kelanjutan misteri – karena secara tersirat pernyataan Anas menjanjikan itu -- sejumlah kasus besar yang sekian lama menggantung; dan Century salah satunya. Tak hanya terpancing, media bahkan ikut terseret dalam “permainan” yang mengasyikkan itu.
                Spekulasi para pengamat pun berhamburan. Sengaja atau tidak Anas telah menggiring bangkitnya harapan masyarakat untuk melihat endingtertentu yang mengarah pada figur tertentu pula.
                Salah satu celah yang dilupakan oleh media dan banyak pengamat berhasil dibuka oleh Prof. JE Sahetapy di acara Indonesia LawyersClub, TV One, 5 Maret 2013, terkait moralitas Anas sebenarnya. Seandainya benar ia mengetahui sejumlah skandal dan kejahatan besar di lingkungan elite penguasa, mengapa ia sekian lama mendiamkannya? Baru setelah tersandung kasus, Anas bertekad membuka itu lewat halaman perhalaman karena merasa menjadi korban konspirasi.
                Mungkin benar anggapan yang mengatakan, mustahil kita mengharapkan ucapan jujur dapat keluar dari seseorang yang saat itu berada dalam risiko dan tekanan; namun seseorang yang berjiwa negarawan dan memiliki komitmen tinggi terhadap kebenaran, seberat apapun risiko yang akan dihadapi seharusnya bukan menjadi alasan.
                Skandal demi skandal hilang timbul tanpa ada kejelasan. Konspirasi demi konspirasi diciptakan untuk mengalihkan perhatian. Isu demi isu datang dan pergi seenak hati. Semua itu seperti memberi bukti bahwa republik ini bergerak tanpa visi. Maka pertanyaannya, akan dibawa ke mana sebenarnya negeri ini?
Agenda 2014
                Tumpang tindih arus wacana terkesan berisik, membingungkan dan bikin pening orientasi. Apakah semua itu akan mengantarkan kita pada substansi yang produktif dan membawa pencerahan baru? Atau sekadar hiruk-pikuk spekulasi yang berujung pada antiklimaks persepsi.
                Hiruk-pikuk kasus korupsi, prahara di partai politik, bab-bab lanjutan perang urat saraf antara Anas Urbaningrum dan pihak yang disebutnya para Sengkuni atau Cikeas sekalipun, hingga tuntutan kejelasan siapa pihak di balik kebocoran Sprindik; terasa paling mewarnai riuhnya opini di media. Ada apa dengan media kita? Mengapa ia menjadi sedemikian ramah dan mesra kepada rezim isu?
                Hampir luput dari perhatian kita. Adanya sejumlah agenda tersembunyi untuk menyongsong 2014 yang sudah di ambang pintu; mungkinkah itu yang membuat sejumlah partai politik tiba-tiba menjadi sangat paranoid? Seakan di negeri yang masih menanggung utang berbagai persoalan krusial dan substantif ini tak ada urusan lain yang lebih penting selain menyiapkan segala perangkat dan mental untuk menyongsong 2014?
                Bukan rahasia lagi, kesulitan parpol mencari kader caleg bersih dan bermutu ditambah adanya tanda-tanda masyarakat yang mulai surut kepercayaan dan skeptis terhadap partai politik, makin menguatkan sinyalemen bahwa eksistensi parpol berada dalam tekanan psikologis serius.
                Media sesungguhnya punya peran besar untuk fokus pada figur calon pemimpin yang akan mengawal Indonesia pada tahun-tahun mendatang. Dengan mewacanakan mereka, apakah dari unsur parpol atau indipenden, barangkali akan lebih hemat energi dan pemikiran. Apalagi bila media juga mengakomodasi partisipasi masyarakat lewat ruang atau forum yang disediakan untuk itu.
                Tradisi model kampanye pemilu yang ada selama ini mungkin perlu di-set up ulang karena hanya akan melahirkan spekulasi-spekulasi dan berbiaya tinggi pula. Biaya tinggi hanya akan melahirkan pemimpin yang sibuk dengan hitungan untung-rugi. Ongkos politik dan biaya politik harus direduksi secara frontal supaya kita dapat kembali ke model demokrasi yang murah dan alami. Salah satu cara untuk mencapai itu, media perlu melakukan wacana dan bursa calon pemimpin masa depan sedini mungkin.
                Pemimpin yang benar adalah figur yang terpilih bukan dipilih. Terpilih karena telah melalui proses waktu dan teruji rekam jejak prestasinya. Tradisi memilih calon pemimpin atau wakil rakyat yang serba dadakan dan terburu-buru, apalagi berlumuran “hadiah” yang penuh pretensi dan tidak mendidik, hanya akan melahirkan pemimpin dan wakil rakyat yang menisbikan konstituennya; transaksi telah selesai, jual beli telah impas.
                Medialah sesungguhnya pemegang kendali opini masyarakat. Di pundaknya termuat tanggung jawab besar untuk ikut mengawal arah dan orientasi bangsa ini. Potret DPR dalam satu dekade ini yang penuh anomali dan ambivalensi, biarkanlah menjadi cerita lama. Untuk menyiapkan perbaikan negeri ke depan, media perlu memberi perhatian istimewa pada isu kepemimpinan dan kebangsaan.
                Salah satu solusi untuk Indonesia yang masuk akal ternyata dibutuhkan pemimpin yang baik. Dari pemimpin yang baik akan dilahirkan sistem yang baik (tradisi paternalistik membuat peran pemimpin menjadi penentu, bukan sistem). Dari sistem yang baik akan tercipta birokrasi yang baik. Dengan birokrasi yang baik, masyarakat akan menikmati kenyamanan dan kesejahteraan.
                Salah satu ciri pemimpin yang baik pula, dia akan mengutamakan banyak blusukan ke negerinya sendiri (terutama yang sedang dirundung permasalahan) bukan sebaliknya,  banyak blusukanke negeri luar. Investor akan berbondong-bondong datang ke negeri kita bila Indonesia diakui sebagai negara baik; bukan sebaliknya, membujuk-bujuk mereka, merengek-rengek pada mereka. Sudah berbiaya besar, tak ada jaminan berhasil pula!

(Dimuat di Harian Suara Merdeka, 20 Maret 2013 dengan judul: Peran Media dan Rezim Isu – artikel ini merupakan versi sebelum dilakukan penyuntingan).
Continue Reading | komentar
 
Copyright © 2011. Majalah HumOr Online . All Rights Reserved
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Modify by Creating Website. Inpire by Darkmatter Rockettheme Proudly powered by Blogger