HumOr Edisi 21 Tahun Kedua, September 2013
Komedi Manusia - GM Sudarta (Oil on Canvas)
Parade Lingkar Kelakar
![]() |
| Kartun Non-O |
Seorang usahawan berjalan menyeret kakinya pulang dan nyaris tak mampu mencapai kursi malas ketika ia terhenyak kehabisan tenaga. Isterinya dengan penuh kasih sayang membawakan minuman dingin dan menghiburnya.
"Kau kelihatan lelah sekali," kata isterinya. "Kau pasti mengalami hari yang berat tadi. Apa yang terjadi hingga kau begitu kelelahan?"
"Mengerikan sekali!" jawab sang suami, "Komputer rusak sehingga aku harus berpikir sendiri, mam!" (Sudi Purwono Baru)
***
Sebelum naik ke pesawat, satu pasangan pria-wanita tampak saling berpelukan dan berciuman serta menyatakan kesedihan akan perpisahan mereka. Akhirnya terdengar pengumuman agar semua penumpang segera naik pesawat. Pasangan ini berciuman untuk terakhir kalinya, lalu sambil sambil terisak-isak si wanita naik ke pesawat kemudian duduk di kursinya. Seorang wanita lanjut usia menyaksikan seluruh kejadian itu, berkata pada wanita muda yang masih bersedih itu, "Saya tahu persis perasaan Anda. Anda sedih sekali karena harus berpisah untuk sementara dengan suami Anda."
"Bukan begitu, bu," sahut wanita muda tadi, "Saya menangis justru karena sekarang saya harus kembali kepada suami saya." (Sudi Purwono Baru)
***
Seorang aktor kawakan coba menguji ketenarannya pada seorang gadis cantik yang dijumpainya di sebuah mall.
"Kamu pasti kenal saya, kan?" tanya sang aktor yakin.
Gadis itu cukup lama berpikir tanpa menjawab.
"Masak kamu tidak tahu, saya kan sering tampil di bioskop."
"Ooo..." seru si gadis muda itu dengan rasa bingung yang mulai reda. "Oom sering nonton di bioskop mana, ya?" (Sudi Purwono Baru)
***
Namanya adalah Susan Jamine Zulkifli. Dia baru saja dilantik sebagai Lurah di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta. Dari namanya tentu saja awak berpikir pastilah dia seorang perempuan.
Upps..Pemikiran awak selintas tentang dia adalah perempuan itu saja di masa sekarang, hmmm…Sepertinya sudah tak pantas lagi. Pemikiran seperti itu rasanya seolah kembali mundur bertahun-tahun. Karena, memangnya kenapa pula kalaulah dia benar seorang perempuan? Apakah anda meragukan potensinya karena gender tadi?
Apalagi jika awak mulai pula mengarah kepertanyaan, apa agamanya? Dan tak habis sampai disana, masih ada lagi pertanyaan, jika agamanya adalah A, aliran apa pula dia dari agama itu. Lalu, jika kemudian diketahui kalau ternyata dia beragama A dan dari aliran AB, masih ada lagi pertanyaan, dari agama, aliran dan sekte mana pula? Begitu seterusnya dan seterusnya.
Hingga kemudian akhirnya diketahuilah bahwa dia ternyata beragama A dan dari aliran AB, dengan sekte ABC, lalu ternyata dia jemaat dari ABCD, yang ternyata sama dengan awak. Barulah kemudian awak bersedia bersalaman dengannya dan menerima dia. Bah! Hehehe..Repot amat awak, yah?
Syahdan, ada salah satu dari banyaknya kisah tentang Nasruddin Hoja, seorang Sufi yang konon hidup pada abad ke 14, yang kisah-kisahnya telah mendunia dan di bukukan di berbagai bahasa, seolah menjawab pertanyaan awak tadi.
Pagi itu Nasruddin dan seorang sahabatnya sedang berada di sebuah pasar yang ramai dan hiruk pikuk. Lalu sahabatnya mengatakan. “Mengapa tidak dibikin saja sebuah aturan oleh penguasa, bahwa jika berjalan di pasar, haruslah berjalan ke satu arah yang sama.” Nasruddin menjawab,”Jika semua berjalan di satu arah. Maka dunia akan miring, karena dunia menjadi berat sebelah.”
Keselarasan tercipta bukan melalui penyeragaman, melainkan justru karena kemajemukan.
Para pemikir dari tanah air tercinta ini telah menyadarinya di masa silam dengan membidani kelahiran Pancasila bagi kita semua. Maka, siapakah awak ini hingga berani mengusik dan menggelitik-gelitiknya, dengan berbagai pemikiran yang mundur kebelakang jaman?
Menyadari itu, kini awakpun putar setir untuk kembali maju melangkah sambil berteriak,”Susan Jamine Zulkifli, aku mendukung dan memberi kesempatan sebesar-besarnya buatmu untuk kau buktikan. Silahkan!” (GÕm Tobing)
![]() |
| Gbr Ribut Mardiyanto |
Dari Tes Keperawanan hingga Hukum Gantung
![]() |
| Kartun Non-O S Purwono |
EMPAT CARA TES KEPERAWANAN
Seseorang masih perawan atau tidak bisa dilihat dari empat hal berikut ini:
1. Cara berjalan: jika seorang wanita berjalan menggendong bayi sambil menyusui bayi itu, dapat dipastikan dia sudah tidak perawan lagi.
2. Bentuk tubuh: jika ada wanita berjalan dengan perut membesar karena hamil, pasti dia tidak perawan lagi.
3. Bentuk leher: ini sedikit perlu perhatian agak jeli. Perhatikan baik-baik lehernya. Jika ada tonjolannya ke depan bisa dipastikan dia tidak perawan. Bisa jadi dia perjaka.
4. Namanya: jika ada seseorang bernama Bambang, Susilo, Djoko, bisa dipastikan tidak perawan.
Di tingkat nasional dulu rakyat bosan dan kesal dengan gaya kepemimpinan orang bisu, sengit, tidak komunikatif. Maka, ketika muncul antigone yang lihai, licin, pandai, ganteng, serta pandai “bersolek” di depan cermin publik, maka rakyat terkesima dan kontan menjadikannya antidote atas “racun” yang pernah mereka telan, tanpa daya kritis cukup. Rakyat berharap dia Ratu Adil yang memberi kemakmuran gratis.
(M Djoko Yuwono)
HUKUM KORUPSI DI DUNIA
1. Di Cina ditembak mati
2. Di Malaysia digantung
3. Di Arab dipotong lehernya
4. Di Islam dipotong tangannya
5. Di Indonesia dipotong masa tahanan....
Dirgahayu Indonesia!
(Wasito Djati Pribadi)
Budaya Kampungan: Mudah Terkesima
![]() |
| M Djoko Yuwono |
Oleh Ki Jenggung
KEBIASAAN atau secara lebay bisa disebut sebagai budaya kita yang kampungan adalah gampang terkesima. Kalau Anda berbeda dengan yang lain, gokil atau ‘gila’, berani berbuat aneh di depan publik tanpa rasa malu, tanpa perhitungan etika atau intelektualitas, maka Anda dapat terpilih menjadi pesohor, selebritas. Langkah selanjutnya dengan popularitas itu Anda dapat meraih prestasi atau tataran tak terduga. Bisa menjadi pemimpin atau kaya mendadak tak peduli kapasitas atau kompetensi Anda itu seperti apa.
Budaya yang memalukan ini seolah menjadi garis bawah mentalitas peminta-minta, inlanders, oportunis sejak dulu. Jangan marah. Ada nenek moyang suku di Indonesia mengajarkan konsep Ratu Adil, yang ditafsirkan secara sederhana sebagai seorang penguasa, pemimpin yang dianggap dapat memakmurkan kita tanpa kita berbuat apa-apa asal loyal pada si Ratu. Sedangkan nenek moyang suku lain mengedepankan usaha mandiri, merdeka dari pengaruh kekuasaan.
Bila kita kecewa dengan seorang pemimpin, kita akan cari antagonisnya, dengan keyakinan orang baru ini akan jadi Ratu Adil. Tokoh ini akan cepat mendapatkan epigone dengan kualitas seadanya, sebab ada kelompok lain yang terkesima dengan si epigone alias “barang palsu” ini. Mochtar Lubis menengarai orang Indonesia itu suka sesuatu yang palsu asal mirip aslinya.
Seorang walikota dari pedalaman dianggap berhasil memimpin daerahnya, lalu terpilih menjadi gubernur di Kotaraja. Gayanya tidak biasa, membuat rakyat terkesima sebab belum melihat gagrak kepemimpinan seperti itu. Resepnya dianggap ampuh untuk menjadi Ratu Adil yang mengandung harapan menjadi sinterklas juga. Setelan baju gubernur yang belum komplet dipakainya, dipaksa-paksa, diojok-ojokin, dioyog-oyog, untuk segera ganti baju presiden. Jelas salah ukurannya, baik secara fisik maupun idealistiknya. Kenapa tidak dibiarkan dia bekerja hingga akhir?
Ini karena budaya terkesima tadi. Kontan para impostors memanfaatkan orang mirip dia untuk tujuan komersial belaka. Gilanya si epigone ditawari jabatan minor di daerah hanya karena punya muka mirip dengan si gubernur. Rakyat mengira wajahlah memberi tuah, bukan etos atau gaya maupun daya kerjanya.
Masih Mengapung dan Terapung-apung
Rabu, 14 Agustus 2013
![]() | |
| KASUS YANG MASIH MENGAPUNG - Kartun Non-O S Purwono |
Refleksi Sejarah tentang Sistem Terpusat versus Otonomi Daerah yang Penuh Ganjalan
Setelah kejayaan Majapahit sampai pada tahapan "sirna ilang kertaning bumi", terjadilah sebuah transformasi nilai-nilai sekaligus reformulasi ketatanegaraan dari sistem kerajaan KESATUAN NUSANTARA (yang digerakkan oleh Mahapatih Gajahmada) ke sistem yang dikembangkan oleh Kesultanan Demak, sistem kekuasaan TANAH PARDIKAN (otonomi daerah).
Transformasi dan reformulasi itu menimbulkan gegar budaya. Rakyat bekas kekuasaan Majapahit tidak siap dengan nilai-nilai baru. Apa yang terjadi? Pertengkaran terjadi di mana-mana. Muncul berbagai faksi sosial dengan tujuan mencari keselamatan masing-masing. Demak runtuh. Berdirilah Kesultanan Pajang, ternyata cuma mampu bertahan satu generasi.
Daerah pardikan lain, yang kemudian membangun diri sebagai Kesultanan Mataram, mencoba membangun kejayaan baru, dengan aneka dinamikanya, sampai akhirnya lahirlah apa yang disebut INDONESIA dengan sistem NEGARA KESATUAN.
Tidakkah kegagalan Kesultanan Demak dengan sistem kekuasaan tanah pardikannya (otonomi daerah) bisa kita jadikan sebuah pelajaran berharga? Akankah kita mengulangi kegagalan itu? (M Djoko Yuwono)
Langganan:
Postingan (Atom)













